Monday, December 6, 2010

Bukalah Pintu Maaf

Sukalah memaafkan dan anjurkan orang berbuat baik. Berpalinglah dari orang yang jahil (QS 7:10)

Maaf-memaafkan tentulah sikap yang terpuji. Bahkan merupakan puncak keimanan seseorang. Dan karena puncak, untuk mencapainya pun bukanlah perkara yang gampang. Seperti seseorang yang ingin menggapai puncak sebuah gunung, maka terlebih dahulu ia harus bisa melewati berbagai rintangan: jalan yang terjal, licin, kelokan tajam, dan seterusnya. Begitu pula seseorang yang ingin mencapai taraf pemaaf, ia harus mampu melewati sifat emosi, egois, sakit hati, dendam, dan sifat-sifat buruk lainnya.
Firman Allah dalam Al Quran, surat Al Baqarah ayat 178: Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atasmu qishash dalam hal pembunuhan. Orang merdeka gantinya orang merdeka, hamba gantinya hamba, dan perempuan gantinya perempuan. Maka barang siapa yang mendapatkan pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar diyat (ganti rugi) kepada yang memberi maaf dengan cara yg baik (pula).Ini adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Maka barangsiapa melampaui batas setelah itu, baginya siksaan yang pedih menyakitkan.
Patut kita renungkan mengapa urutan ayat tadi diawali dengan menuntut qishash (pembalasan yang sama). Sepertinya Allah SWT berpesan kepada kita, tuntutlah hak mu yang setimpal. Namun kemudian kita di gelitik ketika Allah seakan berkata, “Akankah engkau pilihkah qishash dari memberi maaf?”
Untuk menjawabnya, iman sangat berperan dsini. Bila iman tak ada di dada, tentu manusia akan berkata, “Masa' dimaafkan perbuatan orang yg telah menimbulkan aniaya?”
Seakan Allah menjawab, “Bila ini yang engkau pilih, berarti telah selesai utang si pembunuh kepadamu. Dan engkau tidak akan mendapatkan apa-apa dari Ku.”
Namun bila si hamba menjawab: “Tuhanku, apakah arti menuntut qishash, bila Engkau lebih suka hamba Mu memberi maaf. Maka aku akan lebih memilih maaf karena jati diri Mu juga Maha Pemaaf dan Pengampun.”
Dialog pun berlanjut, “Itukah pilihanmu hamba Ku? Bila demikian, akan Ku maafkan seluruh kesalahanmu.”
Demikian luas kesempatan memberi maaf dalam agama, hingga perbuatan membunuh pun dibukakan pintu maaf. Mudah-mudahan kutipan ayat itu menggugah hati kita semua. Bila hari kemarin dalam diri kita belum bersemi sifat dan watak maaf-memaafkan, semoga sekarang ini pintu maaf terbuka di hati kita masing-masing, sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.
Sungguh sangat beratnya bagi Nabi Muhammad ketika mendengar seorang pamannya, Hamzah, dibunuh secara keji oleh Wahsyi atas perintah Hindun. Dada Hamzah dibelah dan jantungnya di kunyah. Adakah kebiadaban yang lebih dari itu? Namun bagaimanakah sikap Rasulullah? Ternyata beliau memaafkan Hindun dan menerima keislamannya. Dan begitu lah seharusnya akhlak para manusia Pancasilais di tanah air kita ini.

[Bismar Siregar]

Mengelola Nafsu

Suatu hari, ketika Nabi saw bersama para sahabatnya berjalan pulang ke Madinah dari suatu peperangan, beliau berkata, “Kita baru saja pulang dari jihad kecil, dan kini akan menghadapi jihad akbar.”
“Apakah jihad akbar, ya Rasulullah?” tanya seorang sahabat. “Ia adalah memerangi hawa nafsu,” jawab Nabi saw singkat.
Hawa nafsu, kata ulama, merupakan pangkal semua tindak kejahatan, pangkal semua perbuatan untuk menduharkai perintah agama.Karena nafsu ingin memiliki senjata api, seorang pemuda rela membunuh seorang polisi. Karena nafsu ingin berkuasa, seseorang akan memakai segala cara untuk meraihnya. Lantaran nafsu ingin jadi kaya, tak jarang seorang pedagang atau pengusaha menipu langganannya. Singkat kata, begitu pendapat para sufi, hawa nafsu merupakan pemutus tali hubungan antara hati manusia dengan Tuhannya.
Keberadaan hawa nafsu, boleh dibilang, sama dengan usia manusia itu sendiri. Sejak Allah yang Maha Tinggi mengutuk setan sebagai penghuni neraka, lantaran tak mau menyembah kepada Nabi Adam, Allah juga memberi konsesi dengan memperbolehkan mereka menggoda anak cucu Adam.
Al Quran mencatat bahwa korban pertama yang berhasil digoda setan adalah Nabi Adam dan Siti Hawa sendiri, ketika nekat menyantap buah terlarang (QS 2:36). Meskipun setan diperbolehkan mengganggu manusia , namun Tuhan juga menjelaskan bahwa setan tak akan berhasil menggoda anak cucu Adam yang mengikuti petunjukNya (QS 2:38).
Dengan begitu, dalam diri manusia sebenarnya terdapat unsur setan dan malaikat. Unsur setan ditandai dengan pembangkangan terhadap perintah Allah SWT. Al Quran menyebutnya sebagai nafsu amarah bissu'. Lalu unsur malaikat, ditandai dengan skap tunduk, pasrah, dan selalu siap melaksanakan perintah agama. AL Quran menyebutnya sebagai nafsu muthmainnah.
Karena itu, kehidupan manusia pada hakekatnya pergulatan antara nafsu muthmainnah dan nafsu amarah bissu'. AL Quran menyebut kondisi ini sebagai nafsu lawwamah. Tanda-tandanya, adalah pasang surutnya iman. Nabi saw bersabda,”Pejuang itu adalah orang yang selalu menundukkan nafsunya untuk menaati Allah SWT.”
Celakanya, jihad melawan nafsu setan memang tidak gampang. Beda dengan jihad kecil (perang), musuh jelas tampak d depan mata. Setan dalam menggoda manusia selalu memakai segala cara. Malas, menunda waktu, makan berlebihan, iri, dengki, dan sebagainya, adalah bagian dari tipu muslihat setan untuk mencelakakan manusia.
Orang yang gagal menundukkan hawa nafsunya sendiri, niscaya akan mengalami kesukaran dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kalau sudah begini, segala amal perbuatannya tak lagi berada di bawah kontrol Ilahi. Sebaliknya ia terprogram di bawah arahan thaghut yang setani.
Orang yang berjuang untuk thaghut sudah tentu segera binasa. Rasul dalam kesempatan terpisah bertutur bahwa ada tiga kelompok orang yang niscaya akan binasa. Pertama, manusia yang 'mematuhi' kekikirannya. Kedua, orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Dan ketiga, insan yang suka mengultuskan dirinya sendiri.
Di zaman yang penuh dengan godaan ini, setiap orang agaknya perlu menambahkan kadar keikhlasan. Karena, hanya rasa ikhlas yang dalam yang dapat mencegah manusia terpuruk dalam kesesatan setan. Simaklah Al Qur'an surah Al Hijr ayat 39-40: Iblis berkata, “ Tuhan! Lantaran Engkau menghukumku jadi tersesat, nanti aku akan menipu mereka (insan) dan akan menyesatkan semuanya. Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas.”
Al Bushiri, seorang sufi yang juga pengarang qasidah Burdah, mengibaratkan nafsu sebagai seorang bayi. Bila terus anda susui, katanya, ia akan terus bergantung pada susu itu. Dan bila anda sapih, ia pun akan tumbuh sehat (tanpa susu ibunya). “Berapa banyak kelezatan hidup yang mematikan. Lantaran ia (manusia) tak tahu bahwa lemak itu mengandung racun.” ujarnya.

[Ikhwanul Kiram]

Ikatlah Al Quran dalam Shalat Malam mu

Said bin Hisyam ingin sekali mati syahid. Ia menceraikan istrinya dan menjual kebunnya. Ia hendak membeli kuda dan senjata, berperang melawan Romawi dan mati syahid. Ketika berangkat ke Madinah, ia berjumpa dengan sekelompok kaumnya. Mereka bercerita bahwa pada zaman Nabi pernah sebagian mereka bermaksud yang sama, tapi Nabi melarangnya. Bahkan Nabi menyuruh mereka kembali.
Akhirnya ia pergi juga ke Madinah, tapi untuk berguru kepada Aisyah. Ia berhasil menemuinya. Inilah percakapannya dengan Aisyah r.a. Seperti yang diceritakan para perawi hadist:
Said: Ya Ummul Mukminin, ceritakanlah kepadaku akhlak Rasulullah saw.
Aisyah: Tidakkah kamu membaca Al Quran?
Said: Tentu saja.
Aisyah: Akhlak Rasulullah saw itu Al Quran.
Said: (Ia bermaksud untuk berdiri, tapi ingat akan shalat malam Nabi saw.): Ya Ummul Mukminin, ceritakanlah kepadaku shalat malam Nabi.
Aisyah: Pernahkah engkau membaca Surat Al Muzzammil (surat 73)?
Said: Tentu saja.
Aisyah: Sesungguhnya Allah mula-mula mewajibkan shalat malam pada awal surah ini. Rasulullah saw dan para sahabatnya melakukannya setahun penuh, sehingga kaki-kaki mereka bengkak. Kemudian Allah menurunkan keringanan pada surah ini. Shalat malam ditetapkan sebagai sunnat setelah di fardhukan sebelumnya. (Tafsir Ibn Katsir 4:435; Tafsir Al Durr Al Mantsur 8:312; Tafsir Fakhr Al Razi 30:171).
Yang dimaksud dengan awal surah Al Muzzammil adalah ayat 1-6: Hai orang-orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari, selain sedikit waktu. Seperduanya atau kurangkan sedikir dari itu. Atau lebihkan darinya, dan bacalah Al Quran dengan tartil. Kami akan memberikan kepadamu perkataan yang berbobot. Sungguh, bangun di malam hari itu lebih memperkuat jiwa dan lebih benar bacaannya.
Walaupun ayat terakhir meringankan perintah shalat malam, Nabi dan para sahabatnya tetap melakukan dengan teratur. Hudzaifah pernah shalat malam di belakang Nabi. Waktu itu Nabi berdiri lama sekali. Pada rakaat pertama, misalnya, beliau membaca surah Al Baqarah sampai ayat keseratus. Beliau rukuk dan sujud dalam waktu yang hampir sama dengan berdirinya. Begitu panjangnya shalat malam Nabi, sehingga Ibnu Mas'ud pernah berkata: “Aku mempunyai niat jelek. Aku duduk saja dan meninggalkan Nabi.”
Shalat malam menjadi syiar orang-orang saleh. Dengan shalat malam, mereka melepaskan selimut yang menutupi dirinya. Dalam shalat malam, mereka juga mengikat ayat-ayat Al Quran dalam hatinya. Nabi sangat menganjurkan umatnya menghafal Al Quran. Nabi mengecam orang yang pernah menghafal Al Quran kemudian melupakannya.
Kelak pada hari akhir, seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan di surga yang tinggi. Ia terpesona dan bertanya, “ Siapakah anda?”. Yang indah itu menjawab “Tidakkah kamu mengenal aku. Aku adalah ayat-ayat Al Quran yang pernah engkau hafal. Tapi kau lupakan daku. Sekiranya engkau tetap mengikatku, engaku akan berada di tempat yang sama denganku.”
Karena itu, ikatlah Al Quran dalam shalat malam mu!

[Jalaluddin Rakhmat]

Perceraian

Bagi kita, lahir, perkawinan, dan kematian adalah suratan takdir. Karena itu bila ada pasangan suami istri bercerai, biasanya kita lalu mengatakan jodohnya memang hanya sampai di situ. Islam sendiri memandang perceraian, meskipun merupakan perbuatan halal, tapi ia juga perbuatan yang makruh, sesuatu yang dimurkai oleh Allah SWT. Karena itu, ketika seorang sahabat, Zaid bin Haritsah mengadukan kepada Nabi Muhammad saw, hendak menceraikan istrinya, beliau pun menasehatinya, “Jaga baik-baik istrimu, jangan diceraikan. Hendaknya engkau takut kepada Allah.”
Dan bergaullah dengan istri-istrimu dengan ma'ruf. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak. (QS 4:19).
Adalah sangat memprihatinkan dengan cukup banyaknya kasus perceraian dewasa ini. Di Sumatra Utara, dalam setahun, dikabarkan telah terjadi sekitar 3.000 kali kasus perceraian. Sedangkan di Jakarta Barat, menurut pengadilan agama setempat, pada bulan Juni saja telah terjadi 231 kasus perceraian. Sementara di beberapa tempat lain, jumlah kasus perceraian juga terus meningkat.
Namun yang lebih memprihatinkan adalah bahwa kebanyakan kasus perceraian itu penyebab utamanya karena tidak adanya tanggung jawab, baik dari pihak istri maupun suami. Tanggung jawab disini bukan hanya dalam hal materi, tapi juga dalam hal memberi kesempatan dan perlakuan baik terhadap pasangannya. Seorang ulama mengatakan,”Pada dirimu dituntut beberapa hak: hak untuk dirimu, hak untuk istrimu, hak untuk anak-anakmu, untuk Tuhanmu, dan hak untuk masyarakat dan lingkunganmu.”
Bila salah satu hak itu diabaikan, terutama hak terhadap suami atau istri, akibatnya kehidupan rumah tangga menjadi goyah. Tak ada lagi keharmonisan dalam rumah tangga. Rumah yang diharapkan menjadi surga, berubah menjadi neraka. Buntutnya masing-masing suami-istri kemudian mencari hiburan dan kesenangan di luar rumah. Bila hal ini terjadi, akibatnya bisa ditebak: Perceraian.
Lantaran itulah Islam telah mengatur dan memberikan bimbingan untuk mencapai suatu rumah tangga yang bahagia, sakinah. Rumah tangga yang dapat memberikan ketentraman jiwa, kedamaian hati, dan kesejahteraan untuk seisi rumah, lahir dan batin, sesuai dengan sebuah ungkapan baiti jannati (rumahku surgaku).
Allah berfirman, “Di antara tanda-tanda keagungan Nya, Ia menciptakan untukmu pasangan dari dirimu agar kamu merasakan ketentraman jiwa, dan Ia pun mewujudkan kasih sayang dan welas asih. Itulah pertanda dari mereka yang mau berfikir.” (QS 30:21).
“Iman orang-orang mukmin yang paling sempurna ialah yang paling baik budi pekertinya, dan yang paling baik budi pekertinya adalah yang paling baik terhadap istrinya,” jelas Nabi Muhammad saw.
Dan untuk menciptakan rumah tangga yang bahagia itu, dari mula Nabi sudah menasehatkan tentang bagaimana mencari pasangan untuk membina rumah tangga yang baik. Dari Abu Hurairah, Nabi pernah menjelaskan, “Orang yang mencari pasangan hidup biasanya terperosok oleh empat hal: harta, kecantikan, keturunan, dan agama. Dan untuk menggapai kebahagiaan, setidaknya engkau memilih yang beragama (akhlak).”

[Alwi Shihab]

Saturday, December 4, 2010

Memunculkan Sifat Sabar

Puluhan ayat Al Qur'an membahas masalah sabar dan kesabaran. Di antaranya tentang sabar dalam kesempitan (QS 2:177), orang bersabar bila mendapat cobaan (QS 2:156), dan pahala bagi orang yang bersabar (QS 2:157 dan 28:54). Baginda Nabi sendiri menjadi teladan utama kesabaran, ketika beliau dihina, diejek, dan dilukasi semasa berdakwah.

Kata 'sabar' kedengarannya sederhana. Namun ternyata tak semuainsan bisa melakukannya. Kasus-kasus orang kehilangan kesabarannya sudah terlalu sering terjadi dalam masyarakat. Sehingga ketaksabaran seakan menjadi sesuatu yang lumrah dalam kehidupan.

Surat kabar sering memuat peristiwa kejahatan dan penyelewengan yang sebenarnya bila diteliti bersumber dari rasa tidak sabar. Lihatlah, kasus perkosaan itu terjadi lantaran rasa tidak sabar pelakunya untuk menunda perkawinan sah yg sudah pasti akan lebih menjamin rasa aman dan tenteram.

Para remaja yang suka bermabukan tidak punya rasa kesabaran untuk menentramkan gejolak jiwa mudanya yang meletup-letup dan mengarah kepada perbuatan negatif itu. Maka ia mengambil jalan pintas: menenggak minuman keras. Dikira, dengan minum khamr itu, mereka bebas dan lepas dari kekalutan.

Kesabaran juga disebut-sebut sebagai dinding pemisah antara halal dan haram. Khalifah keempat, Sayidina Ali putra Thalib r.a. Pernah memberikan pitutur yang berharga mengenai kesabaran ini. Suatu ketika, saat berkemas hendak shalat di mushala, beliau menitipkan kuda kepada lelaki tua. Ia sudah menyimpan sekeping dinar untuk diserahkan kepada penunggu kudanya. Usai shalat, menantu Rasulullah saq ini terperanjat. Pria berjenggot yang menunggui kudanya raib bersama peralatan kuda itu. Syukur, kudanya sendiri tak ikut hilang. Ia pun bersama Kanbar, sahabatnya, terpaksa jalan kaki mencari kedai penjual perangkat kuda.

Di depan toko itu, Ali menawar tali kuda seharga satu dinar, satu2nya uang yang dimilikinya. Pedagang agaknya mengenal Khalifahnya. Iapun menyerahkan tali tersebut seharga satu dinar, sambil menjelaskan bahwa orang yang menjual tali kuda itu kepadanya mungkin belum sampai d rumahnya.

Begitu tali diserahkan, Kanbar kaget. “Bukankah ini milik Amirul Mukminin,” katanya. Tapi Khalifah Ali tidak marah. Dalam perjalanan pulang, ia berkata kepada sahabatnya, “Andai lelaki tadi bersabar sejenak, ia akan mendapatkan hadiah dariku satu dinar dengan cara halal. Berhubung ia tidak sabar, ia juga memperoleh uang sejumlah sama, namun dengan cara haram. “

Sesungguhnya rezeki manusia sudah dicatat oleh Allah bagi segenap hamba-Nya di Lauh Mahfuzh. Bilamana dan berapa jumlah rezeki itu hanya Allah yang Maha Mengetahuinya. Yang pasti, batas yang membedakan nilai rezeki itu adalah kesabaran.

Bila seseorang sabar, ia akan mendapatkannya dengan cara halal. Jika tidak, ia juga akan mendapatkannya, tetapi dengan cara haram. Karena ketaksabarannya, seorang petaruh SDSB mungkin dapat memenangkan perjudian itu. Tapi dia tidak dapat mengelak bahwa itu haram.

[M. Baharun]

Wednesday, December 1, 2010

Sungguh Kamu akan Ditanya!

Telah melupakan kamu upaya menumpuk kekayaan
sampai kamu masuk ke dalam kubur
Nah, kamu akan segera mengetahuinya (akibat dari perbuatanmu itu)
Pasti kamu akan segera mengetahuinya
Nah, kamu akan mengetahuinya dengan ilmu yakin
Pasti kamu akan melihat nereka Jahiim
Sungguh, kamu akan melihatnya dengan 'ainul yaqin
Kemudian, sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang nikmat yang kamu peroleh hari ini

(Surat At-Takatsur: 1-7)

Tengah hari di Madinah. Karena panas yang menyengat, semua makhluk berlindung di tempat-tempat teduh. Penduduk Madinah umumnya memilih tidur siang. Jalan-jalan lengang. Tidak ada yang bergerak, kecuali debu-debu dan daun-daun yang diterbangkan angin. Tiba-tiba muncul seorang lelaki, terhuyung-huyung menuju masjid. Setelah itu datang lelaki lain.

“Apa yang menyebabkan engkau keluar pada jam seperti ini, hai Abubakar?,” tanya Umar, laki-laki yang dateng belakangan. “Aku keluar karena desakan lapar,” kata Abubakar. Umar berkata, “Demi Allah yang diriku ada di tangan-Nya, akupun terpaksa keluar karena lapar.”

Ketika keduanya duduk di masjid, Rasulullah saw datang,”Mengapa kalian keluar pada jam seperti ini,” tanya beliau. “Rasa lapar yang memilin perut kami, ya Rasul Allah,” keduanya menjawab. “Demi yang mengutusku dengan kebenaran, aku pun keluar karena sebab yang sama. Bangunlah, marilah kita pergi ke rumah Abu Ayyub Al-Anshari.”

Ketiganya sampai di rumah Abu Ayyub. Istrinya menyambut mereka, “Marhaban bi Nabiyyillah wa bi man ma'ah. Selamat datang, Nabi Allah. Selamat juga orang-orang yang besertanya.” “Kemana Abu Ayyub?,” tanya Nabi. “Ia sedang keluar, tetapi sebentar lagi datang, ya Nabi Allah,” jawab istri Abu Ayyub.

Memang, tak lama kemudian Abu Ayyub datang. Ia sangat senang arena mendapat kunjungan tamu-tamu yang mulia. Ia segera memotong satu tangkai kurma. Nabi menegurnya, mengapa ia memotong satu tangkai, padahal yang mau diambil hanya buahnya. Abu Ayyub berkata,”Saya ingin sekali engkau makan kurma, baik yg masih muda maupun yg sudah matang.”

Untuk menjamu Rasulullah dan kedua sahabatnya, Abu Ayyub menyembelih kambing yang masih muda. Setengahnya dimasak, dan setengahnya lagi di panggang.

Nabi dan kedua sahabatnya makan sampai kenyang. Nabi bersabda,”Roti, daging, kurma matang, kurma segar, kurma muda.” Nabi menyebut makanan yang terhidang, sementara air matanya tergenang di pelupuk matanya. Beliau berkata lagi, “Demi yang diriku ada ditangan-Nya, inilah nikmat yang akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah nanti pada hari kiamat. “Lalu beliau membaca ayat terakhir surah At-Takatsur,”Kemudian, sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang nikmat yang kamu peroleh hari ini,” (Tafsir Al-Durr Al-Mantsur 8:609-611)

[Jalaluddin Rakhmat]

Kembali kepada Agama

Akhir-akhir ini beberapa masalah yang berkaitan dengan agama mencuat ke permukaan, tetapi ditanggapi sementara orang sebagai melecehkan agama. Sebutlah, seperti ziarah kubur, shalat ghaib, dan mengusung jenazah. Komentar datang dari berbagai pihak. Salah satu diantaranya,”Dunia berputar, sejarah mengulangi dirinya.”

Di Eropa, pernah agama amat disanjung, kekuasaan agamawan melampaui kekuasaan politisi. Tetapi karena kesalahan agamawan sendiri, ilmuwan dan potilitsi meninggalkan mereka dan meninggalkan agama.

Dunia politik menanggalkan agama. Nilai-nilai kejujuran, keadilan, objektivitas, diabaikan. “Benar atau salah, yang penting kelompok atau partai. Bukankah ini politik?” kata mereka. Selanjutnya ekonom juga berbuat serupa. Bahasa ekonomi adalah mengejar keuntungan. Tujuan ini menghalalkan segala cara. Monopoli dan eksploitasi, tidak ada salahnya. Klub malam, panti pijat, dan foto bugil pun, silahkan. Apalagi sekadar memusnahkan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat, guna memepertahankan harga. Itulah logikanya. Setalah itu, penanggalan agama dilakukan dalam bidang seks. Terlalu banyak contoh, sehingga tidak perlu menyebut satu pun.

Dunia berputar. Kalau dulu orang meninggalkan agama, kini kita kembali kepadanya. “Sekarang ini ada kegairahan beragama,” kata orang. Ini benar, tetapi tidak jarang kita menggunakan agama -secara sadar atau tidak- dalam berbagai aktivitas yang keliru. Sebutlah sebagai misal, Al-Quran kita jadikan mas kawin. Padahal Nabi saw menjadikannya alternatif terakhir maskawin bagi mereka yg tidak memiliki barang walau sebuah cincin besi.

Dalam bidang ekonomi, agama pun digunakan. Perhatikanlah, misalnya, istilah2 keagamaan yang dijadikan label dalam berbagai produk ekonomi, seperti tasbih, zam-zam, kautsar, dan sebagainya. Ini, walaupun akronim, dapat mengantar kepada penganggalan nilai agama, sekularisasi istilah, hingga pelecehan terhadapnya.

Jangan berkata,”Apalah arti sebuah nama.” Karena, bagi agamawan, nama sangat berarti. Panjang untuk menguraikannya. Kelihatannya politisi pun kembali kepada agama. Mereka menggunakan istilah dan praktik keagamaan, untuk tujuan-tujuan non-agama. Ini jelas lebih buruk dari yang secara jantan menanggalkan agama. Tapi apa hendak dikata.

Dunia berputar. Semua berdendang merayu agama, tetapi hanya yang tulus yang diterima. Mereka, para penganut agama, tidak disuruh kecuali supaya mengabdi kepada Allah SWT, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam menjalankan agama dengan lurus. (QS 98:5).

Allah begitu kaya, sehingga tidak menerima kecuali yang murni. Dia begitu pemurah, bijaksana lagi mulia, sehingga kalau ada yang mempersekutukan-Nya, Dia menolak dan bagian-Nya diserahkan kepada 'sekutu-Nya'. Maha Suci Allah SWT.

[M. Quraish Shihab]