Akhir-akhir ini beberapa masalah yang berkaitan dengan agama mencuat ke permukaan, tetapi ditanggapi sementara orang sebagai melecehkan agama. Sebutlah, seperti ziarah kubur, shalat ghaib, dan mengusung jenazah. Komentar datang dari berbagai pihak. Salah satu diantaranya,”Dunia berputar, sejarah mengulangi dirinya.”
Di Eropa, pernah agama amat disanjung, kekuasaan agamawan melampaui kekuasaan politisi. Tetapi karena kesalahan agamawan sendiri, ilmuwan dan potilitsi meninggalkan mereka dan meninggalkan agama.
Dunia politik menanggalkan agama. Nilai-nilai kejujuran, keadilan, objektivitas, diabaikan. “Benar atau salah, yang penting kelompok atau partai. Bukankah ini politik?” kata mereka. Selanjutnya ekonom juga berbuat serupa. Bahasa ekonomi adalah mengejar keuntungan. Tujuan ini menghalalkan segala cara. Monopoli dan eksploitasi, tidak ada salahnya. Klub malam, panti pijat, dan foto bugil pun, silahkan. Apalagi sekadar memusnahkan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat, guna memepertahankan harga. Itulah logikanya. Setalah itu, penanggalan agama dilakukan dalam bidang seks. Terlalu banyak contoh, sehingga tidak perlu menyebut satu pun.
Dunia berputar. Kalau dulu orang meninggalkan agama, kini kita kembali kepadanya. “Sekarang ini ada kegairahan beragama,” kata orang. Ini benar, tetapi tidak jarang kita menggunakan agama -secara sadar atau tidak- dalam berbagai aktivitas yang keliru. Sebutlah sebagai misal, Al-Quran kita jadikan mas kawin. Padahal Nabi saw menjadikannya alternatif terakhir maskawin bagi mereka yg tidak memiliki barang walau sebuah cincin besi.
Dalam bidang ekonomi, agama pun digunakan. Perhatikanlah, misalnya, istilah2 keagamaan yang dijadikan label dalam berbagai produk ekonomi, seperti tasbih, zam-zam, kautsar, dan sebagainya. Ini, walaupun akronim, dapat mengantar kepada penganggalan nilai agama, sekularisasi istilah, hingga pelecehan terhadapnya.
Jangan berkata,”Apalah arti sebuah nama.” Karena, bagi agamawan, nama sangat berarti. Panjang untuk menguraikannya. Kelihatannya politisi pun kembali kepada agama. Mereka menggunakan istilah dan praktik keagamaan, untuk tujuan-tujuan non-agama. Ini jelas lebih buruk dari yang secara jantan menanggalkan agama. Tapi apa hendak dikata.
Dunia berputar. Semua berdendang merayu agama, tetapi hanya yang tulus yang diterima. Mereka, para penganut agama, tidak disuruh kecuali supaya mengabdi kepada Allah SWT, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam menjalankan agama dengan lurus. (QS 98:5).
Allah begitu kaya, sehingga tidak menerima kecuali yang murni. Dia begitu pemurah, bijaksana lagi mulia, sehingga kalau ada yang mempersekutukan-Nya, Dia menolak dan bagian-Nya diserahkan kepada 'sekutu-Nya'. Maha Suci Allah SWT.
[M. Quraish Shihab]
No comments:
Post a Comment