Suatu hari, ketika Nabi saw bersama para sahabatnya berjalan pulang ke Madinah dari suatu peperangan, beliau berkata, “Kita baru saja pulang dari jihad kecil, dan kini akan menghadapi jihad akbar.”
“Apakah jihad akbar, ya Rasulullah?” tanya seorang sahabat. “Ia adalah memerangi hawa nafsu,” jawab Nabi saw singkat.
Hawa nafsu, kata ulama, merupakan pangkal semua tindak kejahatan, pangkal semua perbuatan untuk menduharkai perintah agama.Karena nafsu ingin memiliki senjata api, seorang pemuda rela membunuh seorang polisi. Karena nafsu ingin berkuasa, seseorang akan memakai segala cara untuk meraihnya. Lantaran nafsu ingin jadi kaya, tak jarang seorang pedagang atau pengusaha menipu langganannya. Singkat kata, begitu pendapat para sufi, hawa nafsu merupakan pemutus tali hubungan antara hati manusia dengan Tuhannya.
Keberadaan hawa nafsu, boleh dibilang, sama dengan usia manusia itu sendiri. Sejak Allah yang Maha Tinggi mengutuk setan sebagai penghuni neraka, lantaran tak mau menyembah kepada Nabi Adam, Allah juga memberi konsesi dengan memperbolehkan mereka menggoda anak cucu Adam.
Al Quran mencatat bahwa korban pertama yang berhasil digoda setan adalah Nabi Adam dan Siti Hawa sendiri, ketika nekat menyantap buah terlarang (QS 2:36). Meskipun setan diperbolehkan mengganggu manusia , namun Tuhan juga menjelaskan bahwa setan tak akan berhasil menggoda anak cucu Adam yang mengikuti petunjukNya (QS 2:38).
Dengan begitu, dalam diri manusia sebenarnya terdapat unsur setan dan malaikat. Unsur setan ditandai dengan pembangkangan terhadap perintah Allah SWT. Al Quran menyebutnya sebagai nafsu amarah bissu'. Lalu unsur malaikat, ditandai dengan skap tunduk, pasrah, dan selalu siap melaksanakan perintah agama. AL Quran menyebutnya sebagai nafsu muthmainnah.
Karena itu, kehidupan manusia pada hakekatnya pergulatan antara nafsu muthmainnah dan nafsu amarah bissu'. AL Quran menyebut kondisi ini sebagai nafsu lawwamah. Tanda-tandanya, adalah pasang surutnya iman. Nabi saw bersabda,”Pejuang itu adalah orang yang selalu menundukkan nafsunya untuk menaati Allah SWT.”
Celakanya, jihad melawan nafsu setan memang tidak gampang. Beda dengan jihad kecil (perang), musuh jelas tampak d depan mata. Setan dalam menggoda manusia selalu memakai segala cara. Malas, menunda waktu, makan berlebihan, iri, dengki, dan sebagainya, adalah bagian dari tipu muslihat setan untuk mencelakakan manusia.
Orang yang gagal menundukkan hawa nafsunya sendiri, niscaya akan mengalami kesukaran dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kalau sudah begini, segala amal perbuatannya tak lagi berada di bawah kontrol Ilahi. Sebaliknya ia terprogram di bawah arahan thaghut yang setani.
Orang yang berjuang untuk thaghut sudah tentu segera binasa. Rasul dalam kesempatan terpisah bertutur bahwa ada tiga kelompok orang yang niscaya akan binasa. Pertama, manusia yang 'mematuhi' kekikirannya. Kedua, orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Dan ketiga, insan yang suka mengultuskan dirinya sendiri.
Di zaman yang penuh dengan godaan ini, setiap orang agaknya perlu menambahkan kadar keikhlasan. Karena, hanya rasa ikhlas yang dalam yang dapat mencegah manusia terpuruk dalam kesesatan setan. Simaklah Al Qur'an surah Al Hijr ayat 39-40: Iblis berkata, “ Tuhan! Lantaran Engkau menghukumku jadi tersesat, nanti aku akan menipu mereka (insan) dan akan menyesatkan semuanya. Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas.”
Al Bushiri, seorang sufi yang juga pengarang qasidah Burdah, mengibaratkan nafsu sebagai seorang bayi. Bila terus anda susui, katanya, ia akan terus bergantung pada susu itu. Dan bila anda sapih, ia pun akan tumbuh sehat (tanpa susu ibunya). “Berapa banyak kelezatan hidup yang mematikan. Lantaran ia (manusia) tak tahu bahwa lemak itu mengandung racun.” ujarnya.
[Ikhwanul Kiram]
No comments:
Post a Comment