Semakin kaya seseorang, biasanya semakin rakus pula dalam menumpuk kekayaannya. Saking rakusnya, terkadang ia lupa norma dan kaidah yg berlaku di masyarakatnya. Dalam mengeruk keuntungan itu, ia bisa tak peduli lagi, apakah ia menipu, berbohong, memalsukan dokumen, atau bahkan merugikan orang lain. Yang terlintas pada dirinya, adalah bagaimana memperoleh harta benda yg sebanyak-banyaknya.
Bagi orang yg berilmu pengetahuan tanpa didasari oleh ilmu agama, mungkin akan menganggap manusia seperti itu wajar-wajar saja. Sebab manusia memang condong kepada yg enak, menyenangkan, dan menguntungkan dirinya. Oleh ilmu jiwa modern pun, hal itu juga dipandang sebagai wajar, dan pelakunya tidak akan sakit hati atau terganggu jiwanya.
Akan tetapi Allah SWT dengan tegas mengatakan bahwa manusia itu benar-benar merugi. Demi masa! Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yg beriman, mengerjakan amal shaleh, nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat-menasehati agar menetapi kesabaran. (QS 103: 1-3)
Rugi apakah gerangan yg diperingatkan Allah SWT dalam ayat-ayat tsb? Dari ayat-ayat tadi kiranya bisa dipahami bahwa kerugian yg dimaksud disini adalah rugi hakiki, bukan sekedar rugi materi. Mereka adalah orang-orang yg tidak beriman, jiwanya guncang, emosinya mudah terangsang, dan hatinya tidak tentram, karena pegangan hidupnya tidak kukuh. Mereka adalah orang-orang yang tak mau berbuat baik, tidak melakukan amal shaleh, hatinya kesat, dan tidak mempunyai rasa santun** kepada orang-orang miskin. **santun: meski di sekelilingnya banyak orang miskin dan kekurangan, tapi cuek saja membeli barang2 mewah, bermegah-megahan, dan tidak peduli bagaimana pandangan dan perasaan rakyat miskin yg melihatnya.
Mereka yang merugi itu, adalah orang-orang yg selalu mengukur segala tindakannya dengan laba-rugi, sehingga orang-orang miskin tak pernah terlintas dalam pikirannya. Mereka ini merugi, karena tidak mampu merasakan nikmatnya menolong orang yg susah. Orang-orang yang merugi adalah mereka yang tidak berkata benar dan berlaku tidak jujur. Mereka ini hidupnya akan menderita, sebab tidak akan dihormati dan dipercayai orang.
Lalu bagaimanakah orang-orang yg beruntung itu? Maha Penyayang Allah SWT yang telah menunjukkan manusia bagaimana caranya agar tak merugi dalam hidup. Sesungguhnya orang-orang yg selalu membaca Kitabullah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan cara diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak pernah merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala dan menambah kepada mereka karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mensyukuri. (QS 35: 29-30)
Dengan jelas sekali Allah menunjukkan cara berusaha yang tidak merugi, yakni berpegang kepada Al-Qur'an, agar selalu berada dalam bimbingan-Nya. Lalu melaksanakan shalat, sebab shalat sangat bermanfaat bagi kesehatan mental seseorang. Dengan shalat, dapat dihilangkan kebimbangan. Dengan shalat pilihan tepat dapat ditentukan. Dengan shalat, gangguan kejiwaan dapat dihindari. Dan dengan shalat pula, manusia diangkat ke tempat yg terpuji. Agar menjadi manusia yang beruntung, Allah juga menyuruh kita untuk berzakat, memberikan infaq, dan sedekah. Dengan sebagian harga yang kita keluarkan itu, kita dididik untuk pandai bersyukur, serta terhindar dari sifat rakus.
[Zakiah Daradjat]
No comments:
Post a Comment