Wednesday, December 1, 2010

Jatah Rezeki ALLAH

Kata orang, setiap bayi yang lahir, Allah telah menjatahkan rezeki baginya. Namun bagaimana kita mengambil jatah itu? Itulah yg menjadi persoalan. Sebab tak jarang, diantara kita yg salah memahami, sebagaimana terjadi pada sekelompok pemuda Yaman pada masa Khalifah Umar bin Khathtab.
Suatu hari, seperti biasanya, Umar bin Khathtab berjalan-jalan untuk meninjau keadaan umat Islam.

Ketika melewati sebuah masjid, khalifah melihat sekelompok pemuda Yaman sedang asyik khusyuk beribadah. Lalu beliaupun masuk ke dalam masjid. “Siapa kalian,” tegur Khalifah Umar, setelah memberi salam kepada mereka. “Kami adalah orang-orang yg berserah diri pada Allah. Sepanjang hari, kami habiskan watu untuk sembahyang, membaca tahmid dan tahlil, serta berdoa kepada Tuhan Allah SWT,” jawab mereka bangga.

“Kalian semua pembohong,” bentak Umar bin Khathtab. Demi mendengar bentakan khalifah, mereka pun terkejut. Mereka mengira akan mendapatkan pujian, berikut hadiah dari khalifah. “Bukankah Allah SWT sendiri telah mengadakan sebagai Yang Maha Pemberi Rizki, wahai Khalifah Umar bin Khathtab? Bukankah orang2 yang berserah diri seperti kami, rezekinya ada pada Allah?” ujar mereka.

“Kalian bukanlah orang-orang yg berserah diri kepada Allah. Orang yang ber-tawakal kepada Allah adalah orang yg menggerakkan anggota badannya untuk menggali kekayaan alam sembari tetap berdoa kepada Allah,” jelas Umar.

Lalu Khalifah Umar memberi nasehat,”Wahai umat Muhammad, carilah rezeki di muka bumi dan janganlah menjadi beban orang lain,” katanya. “Jadilah orang2 yg profesional dalam suatu pekerjaan . Mereka yang profesional, akan selalu dibutuhkan orang. Bila diantara kalian tak ada yg pandai berdagang, jadilah kalian umat yg terbelakang. Janganlah ada seorang diantara kalian hanya duduk-duduk dan kemudian mengatakan,Ya Allah berilah kami rezeki. Ketahuilah, tak ada hujan yg turun dari langit berupa emas atau perak. Allah membagi rezeki kepada manusia sesuai dengan usahanya.”

Selanjutnya Umar bin Khathtab juga menyitir apa yg pernah dkatakan oleh Rasulullah saw,”Muslim yang baik adalah yg makan dari keringatnya sendiri,” tuturnya. “Wahai umatku, gerakkanlah kedua tanganmu (bekerja), saya akan menjamin kehidupanmu.”

Dalam hal ini, bahkan ada ulama yang berpendapat bahwa orang-orang yg sehari-harinya hanya menggantungkan nafkahnya kepada Allah (pemberian dari orang lain), tanpa mau kerja keras, sama halnya dengan orang yg mencari rezeki lewat perjudian atau nomor undian. Kelompok ini, sebagian ulama menyebutnya sebagai pemalas dan pembohong. Pemalas, karena tak mau mengeluarkan keringat untuk mencari nafkah. Dan pembohong, karena mereka suka menyebut dirinya ke hadapan Allah SWT sebagai hamba yg lemah, fakir dan miskin, tanpa membuktikan kebenarannya.

“Ada jenis dosa yg tak bisa dihapus dengan sembahyang, puasa, haji, dan umrah, dan hanya bisa dihapus oleh keringat yg keluar lantaran kerja keras,” kata ulama.

[Ikhwanul Kiram]

No comments:

Post a Comment