Saturday, December 4, 2010

Memunculkan Sifat Sabar

Puluhan ayat Al Qur'an membahas masalah sabar dan kesabaran. Di antaranya tentang sabar dalam kesempitan (QS 2:177), orang bersabar bila mendapat cobaan (QS 2:156), dan pahala bagi orang yang bersabar (QS 2:157 dan 28:54). Baginda Nabi sendiri menjadi teladan utama kesabaran, ketika beliau dihina, diejek, dan dilukasi semasa berdakwah.

Kata 'sabar' kedengarannya sederhana. Namun ternyata tak semuainsan bisa melakukannya. Kasus-kasus orang kehilangan kesabarannya sudah terlalu sering terjadi dalam masyarakat. Sehingga ketaksabaran seakan menjadi sesuatu yang lumrah dalam kehidupan.

Surat kabar sering memuat peristiwa kejahatan dan penyelewengan yang sebenarnya bila diteliti bersumber dari rasa tidak sabar. Lihatlah, kasus perkosaan itu terjadi lantaran rasa tidak sabar pelakunya untuk menunda perkawinan sah yg sudah pasti akan lebih menjamin rasa aman dan tenteram.

Para remaja yang suka bermabukan tidak punya rasa kesabaran untuk menentramkan gejolak jiwa mudanya yang meletup-letup dan mengarah kepada perbuatan negatif itu. Maka ia mengambil jalan pintas: menenggak minuman keras. Dikira, dengan minum khamr itu, mereka bebas dan lepas dari kekalutan.

Kesabaran juga disebut-sebut sebagai dinding pemisah antara halal dan haram. Khalifah keempat, Sayidina Ali putra Thalib r.a. Pernah memberikan pitutur yang berharga mengenai kesabaran ini. Suatu ketika, saat berkemas hendak shalat di mushala, beliau menitipkan kuda kepada lelaki tua. Ia sudah menyimpan sekeping dinar untuk diserahkan kepada penunggu kudanya. Usai shalat, menantu Rasulullah saq ini terperanjat. Pria berjenggot yang menunggui kudanya raib bersama peralatan kuda itu. Syukur, kudanya sendiri tak ikut hilang. Ia pun bersama Kanbar, sahabatnya, terpaksa jalan kaki mencari kedai penjual perangkat kuda.

Di depan toko itu, Ali menawar tali kuda seharga satu dinar, satu2nya uang yang dimilikinya. Pedagang agaknya mengenal Khalifahnya. Iapun menyerahkan tali tersebut seharga satu dinar, sambil menjelaskan bahwa orang yang menjual tali kuda itu kepadanya mungkin belum sampai d rumahnya.

Begitu tali diserahkan, Kanbar kaget. “Bukankah ini milik Amirul Mukminin,” katanya. Tapi Khalifah Ali tidak marah. Dalam perjalanan pulang, ia berkata kepada sahabatnya, “Andai lelaki tadi bersabar sejenak, ia akan mendapatkan hadiah dariku satu dinar dengan cara halal. Berhubung ia tidak sabar, ia juga memperoleh uang sejumlah sama, namun dengan cara haram. “

Sesungguhnya rezeki manusia sudah dicatat oleh Allah bagi segenap hamba-Nya di Lauh Mahfuzh. Bilamana dan berapa jumlah rezeki itu hanya Allah yang Maha Mengetahuinya. Yang pasti, batas yang membedakan nilai rezeki itu adalah kesabaran.

Bila seseorang sabar, ia akan mendapatkannya dengan cara halal. Jika tidak, ia juga akan mendapatkannya, tetapi dengan cara haram. Karena ketaksabarannya, seorang petaruh SDSB mungkin dapat memenangkan perjudian itu. Tapi dia tidak dapat mengelak bahwa itu haram.

[M. Baharun]

No comments:

Post a Comment