Monday, December 6, 2010

Bukalah Pintu Maaf

Sukalah memaafkan dan anjurkan orang berbuat baik. Berpalinglah dari orang yang jahil (QS 7:10)

Maaf-memaafkan tentulah sikap yang terpuji. Bahkan merupakan puncak keimanan seseorang. Dan karena puncak, untuk mencapainya pun bukanlah perkara yang gampang. Seperti seseorang yang ingin menggapai puncak sebuah gunung, maka terlebih dahulu ia harus bisa melewati berbagai rintangan: jalan yang terjal, licin, kelokan tajam, dan seterusnya. Begitu pula seseorang yang ingin mencapai taraf pemaaf, ia harus mampu melewati sifat emosi, egois, sakit hati, dendam, dan sifat-sifat buruk lainnya.
Firman Allah dalam Al Quran, surat Al Baqarah ayat 178: Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atasmu qishash dalam hal pembunuhan. Orang merdeka gantinya orang merdeka, hamba gantinya hamba, dan perempuan gantinya perempuan. Maka barang siapa yang mendapatkan pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar diyat (ganti rugi) kepada yang memberi maaf dengan cara yg baik (pula).Ini adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Maka barangsiapa melampaui batas setelah itu, baginya siksaan yang pedih menyakitkan.
Patut kita renungkan mengapa urutan ayat tadi diawali dengan menuntut qishash (pembalasan yang sama). Sepertinya Allah SWT berpesan kepada kita, tuntutlah hak mu yang setimpal. Namun kemudian kita di gelitik ketika Allah seakan berkata, “Akankah engkau pilihkah qishash dari memberi maaf?”
Untuk menjawabnya, iman sangat berperan dsini. Bila iman tak ada di dada, tentu manusia akan berkata, “Masa' dimaafkan perbuatan orang yg telah menimbulkan aniaya?”
Seakan Allah menjawab, “Bila ini yang engkau pilih, berarti telah selesai utang si pembunuh kepadamu. Dan engkau tidak akan mendapatkan apa-apa dari Ku.”
Namun bila si hamba menjawab: “Tuhanku, apakah arti menuntut qishash, bila Engkau lebih suka hamba Mu memberi maaf. Maka aku akan lebih memilih maaf karena jati diri Mu juga Maha Pemaaf dan Pengampun.”
Dialog pun berlanjut, “Itukah pilihanmu hamba Ku? Bila demikian, akan Ku maafkan seluruh kesalahanmu.”
Demikian luas kesempatan memberi maaf dalam agama, hingga perbuatan membunuh pun dibukakan pintu maaf. Mudah-mudahan kutipan ayat itu menggugah hati kita semua. Bila hari kemarin dalam diri kita belum bersemi sifat dan watak maaf-memaafkan, semoga sekarang ini pintu maaf terbuka di hati kita masing-masing, sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.
Sungguh sangat beratnya bagi Nabi Muhammad ketika mendengar seorang pamannya, Hamzah, dibunuh secara keji oleh Wahsyi atas perintah Hindun. Dada Hamzah dibelah dan jantungnya di kunyah. Adakah kebiadaban yang lebih dari itu? Namun bagaimanakah sikap Rasulullah? Ternyata beliau memaafkan Hindun dan menerima keislamannya. Dan begitu lah seharusnya akhlak para manusia Pancasilais di tanah air kita ini.

[Bismar Siregar]

2 comments:

  1. Yanaaaaaaaa.. miss you too girl, MP ku dah ilang tak berbekas, bikin 1 lagi tapi udah ilang semangat.. yo wiss di blog ajah. FB ku udah ku ganti.. maklum banyak orang "aneh" talk to you latter yaaa... email aku ajah ya, biar bisa ngobrol lagi

    ReplyDelete
  2. ya ampyuunn... fiiitt.. kok nulis nya d blog gw yg ini?? hahahaha.. but it's ok kok.. cuma heran aja, kok kamu nemu blog ku ini? ato jangan2 kmrn gw nulis comment pake address ini yah? ups.. :) lagian.. email mu apa? oh..soal FB, sama euy, gw jg lg delete2in orang2 yg aneh2 nih fit..FB jdnya suka gk efektif dan malah bnyk mudharatnya deh, hahaha..

    ReplyDelete